Kecerdasan spiritual modal manusia sejati lawan setan – cerita tentang iblis 12

Kecerdasan spiritual adalah sebuah kondisi dimana manusia bisa memanfaatkan potensi sejati yang ada di dalam dirinya, potensi sejati ini adalah ruhaninya, dimana ruhani adalah Percikan Cahaya Tuhan di dalam diri, sumber energi yang tidak terbatas yang langsung diberikan Tuhan kepada manusia sebagai modal kehidupan.


Bila dalam kecerdasan logika otak manusia mendapat input informasi dari kelima panca indera yang diolah di dalam pikiran, maka pada kecerdasan dengan dasar spiritual pikiran manusia mendapatkan input informasi langsung dari ruhani / percikan cahaya Tuhan di dalam diri.

MANUSIA SEJATI, DAPAT MENGALAHKAN SETAN.

Manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal Jati Diri nya, yang kesadaran nya telah melampaui jiwa yang melekat pada Diri Palsu - jiwa tenang - jiwa bijak dan jiwa suci.

Dalam hal ini manusia tersebut sudah mempunyai kecerdasan spiritual sangat jauh dibanding manusia lainnya, karena kecerdasan dengan dasar spiritual nya sudah menyatu dengan sang pencipta.  Kecerdasan yang menyatu dengan alam semesta, universal, tanpa batasan.

Jiwa yang Suci atau Ani : bisa terhubung dengan RUH, sehingga populer disebut Ruh Ani atau NurAni inilah Jati Diri manusia,yaitu Pribadi/jiwa yang telah mengenal Ruh - Nur - Cahaya dari Tuhan. Manusia sejati adalah manusia yang telah aktif Nurani.nya, mencerahi jiwa dan raga. Dengan daya atau energi nurani ini Syetan dapat dikalahkan.

Gabungan kondisi kesucian dan keyakinan,menghantar kuat seseorang dalam berproses menjadi manusia Sejati,yang bisa memahami kehendak Tuhan,dan mudah menangkap petunjuk kebenaran Tuhan,baik melalui firman - firman Tuhan dalam kitab suci maupun kitab Alam Semesta yang terhampar luas multi dimensi - universal atau kitab dalam diri manusia. 

Populasi manusia sejati di muka Bumi ini tidak lebih dari 2 % dari seluruh jumlah umat manusia,dan berfungsi sebagai penegak Kebenaran Tuhan selama ini,sebagai sumber pencerahan bagi manusia awam/Diri Palsu, dan secara turun temurun gigih melawan kekuasaan kerajaan kegelapan. 

Baca juga artikel yang berkaitan : 

Dalam Ranah Ilmu Spiritual, Manusia sejati adalah sebuah pencapaian yang dicapai melalui jalan yang panjang. Manusia yang belajar spiritual harus melalui banyak tingkatan, yang memakan waktu sangat panjang, untuk mencapai tingkatan Manusia Sejati ini. Tetapi bila mendapatkan metode yang efektif dan efisien maka akan sangat memudahkan proses belajar spiritual dan ilmu spiritual yang didapat adalah ilmu dan pengetahuan yang berdasarkan praktek sendiri, pengalaman sendiri, bebas dari dogma dan tradisi yang telah mengakar kuat.

Tradisi yang mengakar kuat di masyarakat kita adalah hanya memfokuskan pada peningkatan kemampuan di bidang kecerdasan logika, sehingga da banyak masalah yang terjadi, misalnya saja, kita tidak mendahulukan atau menomor satukan Tuhan dalam keseharian. Ini mungkin terjadi karena menganggap Tuhan itu jauh, Tuhan itu ada disana, bukan disini di dalam diri.  Sehingga.....

MANUSIA LEBIH TAKUT HANTU, DARI PADA TUHAN.

Terutama di wilayah Nusantara, bloking pola pikir negatif sangat kuat akibat faktor lingkungan dan sudah membudaya tertanam dari sejak kecil hingga dewasa terpola secara imajiner bahwa HANTU adalah sesuatu yang sangat menakutkan, munculnya diwaktu malam/gelap/sepi. Sehingga suasana gelap sendiri juga menimbulkan efek kejiwaan yang menakutkan, atau kenyamanan jiwa lebih enak siang/terang - dibanding malam/gelap.

Pemahaman yang hanya pada tataran kulit saja menimbulkan persepsi yang sangat jauh dibandingkan realita dan arti yang hakiki dari esensi masalah. Cobalah pahami dari sudut pandang spiritual. Cobalah gunakan kecerdasan spiritual untuk menghadapi hal ini.


Para pendahulu gagal membuat aura pemahaman bahwa yang sepatunya ditakuti adalah Tuhan, bukan Hantu! Pekerjaan untuk mengubah - mengurai blocking persepsi ini tidaklah mudah, diperlukan kepedulian pionir untuk mengorganisir dengan konsep positif,  kemudian disosialisasikan secara gerakan masal - kontinyu sampai membudaya, dan terjadi titik balik kesadaran pemahaman bahwa Hantu itu tidak layak untuk ditakuti, dia hanyalah mahluk ciptaan Tuhan di dimensi lain.

Pemahaman spiritual yang didapat tidak menggunakan kecerdasan berbasis spiritual dan tidak berdasarkan pengalaman seorang individu akan menimbulkan sebuah persepsi yang sangat berbeda , persepsi yang didapatkan dari pemahaman dari membaca buku, atau bahkan filsafat dan ada lagi, hanya didapat dari cerita seseorang saja, akan menimbulkan kerancuan,  Spiritual itu adalah sebuah persepsi yang didapat dari pemahaman berbasis pengalaman.

Baca juga artikel yang berkaitan : 

Mari kita mulai saat ini iktiar bersama, diawali dari yang dewasa, kemudian kita pahamkan kepada anak - cucu, bahwa Hantu itu mahluk biasa sesuai dengan kodratnya - dan bukan sesuatu hal yang perlu ditakuti, penanaman prinsip : tidak boleh takut kepada sesama mahluk ciptaan - apapun namanya, dan takutlah hanya kepada Sang Maha Pencipta Mahluk yaitu Tuhan. 

Disinilah pentingnya kecerdasan dengan dasar spiritual untuk membendung pengaruh setan, bila kita bisa berusaha menjadi manusia sejati yang tercerahkan oleh pengaruh Percikan Cahaya Tuhan, maka banyak masalah dasar yang bisa kita selesaikan. Masalah masalah yang sering dianggap kecil oleh masyarakat, karena dianggap kecil maka disanalah masuknya setan, setan memanfaatkan celah yang ada di dalam diri kita, itulah diri palsu ( jiwa ego, jiwa amarah dan jiwa keinginan ).

Dari sinilah muncul masalah yang tadi saya coba uraikan, bahwa ternyata banyak yang lebih beranggapan bahwa setan atau hantu itu lebih dekat daripada Tuhan, sehingga banyak juga yang lebih takut kepada Hantu daripada Tuhan. Kata “takut” ini juga lebih sering digunakan, karena Tuhan bukan dirindukan tapi ditakuti..... 

Bila saja kecerdasan spiritual sudah didapat sejak kita kecil, sejak awal keberadaan kita di dunia kita sudah lebih dipahamkan mengenai dunia spiritual ( dunia mengenai interaksi langsung dengan cahaya Tuhan – Percikan Cahaya Tuhan di dalam diri kita sendiri ), kita sudah lebih didorong untuk mendapatkan pengalaman langsung berinteraksi dengan Tuhan dibanding  dengan yang lain, maka kita mestinya bisa lebih merasakan rasa rindu, rasa cinta, rasa sayang kepada Tuhan, dan kita juga lebih bisa mendapatkan pemahaman dari pengalaman berinteraksi langsung dengan yang Maha Segalanya, maka....kita akan lebih bisa mengatasi gangguan setan.

Share on Google Plus

About Erlangga Asvi

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar