Kehidupan dan reinkarnasi ( reinkarnasi 3 )


Reinkarnasi, dipercaya menjadi sebuah bagian dari kepercayaan/tradi/agama di seluruh bagian dunia, banyak orang — mungkin mayoritas keseluruhan. Walaupun ada banyak juga yang tidak percaya, mungkin karena dasar logikanya belum mereka pahami, Ini sebagian besar karena mereka yang menggunakan logika sebagai landasan terpikat dengan manfaat pengetahuan ilmiah dan semakin skeptis terhadap agama/kepercayaan/tradisi/budaya lama.

Berkat wawasan dari pengalaman mendekati kematian, laporan regresi hipnotis, pengalaman transpersonal yang dipicu oleh meditasi, nafas kerja atau zat psikoaktif, komunikasi setelah kematian, dan bahkan penelitian ilmiah ke dalam deskripsi spontan anak-anak tentang kehidupan lampau mereka. , sekarang mungkin untuk menyusun gambaran reinkarnasi yang sangat jelas.

Re-inkarnasi tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa mempertimbangkan hukum pelengkap, Hukum Sebab dan Akibat, umumnya dikenal sebagai karma. Hukum gerak Newton adalah artikulasi material dari prinsip esoterik yang lebih luas: karena setiap pikiran, kata, dan tindakan ada reaksi yang sama dan berlawanan.



Semua yang kita lakukan adalah penyebab yang memiliki efek yang sesuai. Siklus sebab-akibat ini menjelaskan semua eksistensi dan merupakan dasar pengembangan spiritual. Pada tahap awal keberadaan jiwa (misalnya, pada tumbuhan dan hewan), hukum alam mengatur kehidupan, dengan sedikit jika ada pengambilan keputusan sadar.


Ketika jiwa berkembang menjadi status keberadaan yang lebih tinggi, kesadaran berkembang, seperti halnya tanggung jawab jiwa untuk tindakannya. Di negara manusia, Hukum Tanggung Jawab (akibat dari Hukum Sebab Akibat) berlaku. Terlepas dari pengetahuan kita atau penerimaan hukum universal, kita bertanggung jawab atas semua yang kita putuskan, dan semua yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan.

Akibat lain dari Hukum Sebab dan Akibat (Karma) adalah Hukum Kesetimbangan. Ia menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta mencari keseimbangan, termasuk semua ekspresi energi manusia - kata-kata, pikiran, dan tindakan. Semua tindakan seimbang sesuai dengan prinsip ini. Dalam prosesnya, tindakan kita dan efeknya menciptakan peluang untuk belajar. Ketika kita mengambil tindakan tertentu yang menghasilkan respons yang unik, itu menimbulkan rasa sakit atau kesenangan. Kendaraan fisik merespon dengan cara yang mendasar.

Dengan pemrogramannya, ia mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Ketika suatu pengalaman membangkitkan respons positif atau menyenangkan (karma positif), kita cenderung untuk mengejar itu. Ketika sebuah efek ditafsirkan sebagai negatif atau tidak menyenangkan (karma negatif), kita cenderung menghindarinya. Melalui mekanisme sederhana inilah Hukum Karma dan pertumbuhan rohani bekerja. Prinsip ini telah lama diakui dalam penelitian ilmiah dan telah membentuk dasar dari banyak ilmu perilaku. Namun, itu juga memiliki implikasi spiritual yang mendalam.

Karena alam semesta bekerja sesuai dengan Hukum Kesetimbangan, tidak selalu mungkin menyeimbangkan semua aliran energi dalam satu kehidupan, yaitu, untuk menerima efek positif atau negatif dari semua pikiran, kata-kata, dan tindakan kita. Jadi, energi yang tidak seimbang (karma) disimpan dan mengikuti kita dari seumur hidup ke kehidupan. Inilah mengapa kehidupan tidak dapat dipahami dari perspektif satu kehidupan.

Ketika kita memahami konsep energi tidak seimbang yang tersimpan, kita mulai memahami bentuk kehidupan. Seseorang yang telah menimbulkan rasa sakit, cedera, atau kematian pada orang lain, misalnya, belajar di bawah hukum spiritual dengan harus menanggung nasib yang sama atau dengan menyeimbangkan energi ini dengan cara lain, dalam seumur hidup berikutnya. Seseorang yang telah diperbudak belajar dengan diperbudak atau mungkin dengan mengabdikan hidupnya untuk membebaskan orang lain. Orang lain yang telah memberikan banyak harta duniawi atau token kemurahan hati lainnya, kembali untuk menerima karunia tindakan-tindakan ini. Jadi, dalam pertemuan pemikiran agama Timur dan Barat ini, seseorang menuai apa yang ditabur, baik di masa hidup ini atau di masa depan.

Rahasia besar untuk menghindari efek karma positif atau negatif terletak pada sikap netralitas, yaitu, dalam tindakan yang terlepas untuk kebaikan keseluruhan. Seseorang dibebaskan dari tanggung jawab individual begitu sikap ini diadopsi. Contohnya adalah perilaku mereka yang menggunakan kekuatan yang dipercayakan kepada mereka oleh masyarakat. Seorang polisi, ketika bertindak untuk kebaikan masyarakat (yaitu, konsisten dengan undang-undang yang disepakati oleh masyarakat), dibebaskan dari tanggung jawab individu atas tindakan yang mungkin telah mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Namun, ketika ditemukan bertindak di luar lingkup otoritas itu (yaitu, di luar parameter sosial), maka perlindungan dihapus, dan polisi harus menerima konsekuensi atas tindakannya.

Apakah makna dari kehidupan di bumi dan hubungannya dengan re-inkarnasi? Jika sebelumnya saya sudah mencoba untuk membahas mengenai ini  pada artikel saya sebelumnya ( baca : Reinkarnasi 1 ) maka kali ini saya mencoba untuk membahas mengenai kehidupan di bumi, sebagai sebuah tahapan dalam proses putaran kehidupan ( life cycle ).

Kehidupan kita di bumi ini adalah sebuah tahapan dalam re-inkarnasi, kehidupan ini adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita untuk bisa mendewasakan jiwa kita. Telah dibahas sebelumnya, bahwa yang bereinkarnasi adalah jiwa kita, bukan pikiran atau fisik kita. Jadi yang selalu mengalami perulangan kehidupan adalah jiwa kita. Jadi kita harus paham bahwa kehidupan di bumi dan hubungannya dengan Putaran Kehidupan, adalah mengenai proses yang terjadi pada jiwa kita.

Mengapa Manusia dilahirkan di Bumi ? Manusia diberi kesempatan Tuhan untuk memperbaiki diri agar status kualitas jiwanya menjadi lebih suci, sehingga bisa mengenal Tuhan yang patut disembah. Jadi Manusia dilahirkan di bumi ini bukan suatu kebetulan, tetapi ada maksud Tuhan di balik keberadaan kita di bumi ini.

Jika jiwa kita telah hidup di masa yang telah lalu, kemudian be- reinkarnasi lagi saat ini, ini artinya adalah bahwa jiwa kita perlu diperbaiki kualitasnya. Agar lebih baik dibandingkan saat yang telah lalu.

Apa yang seharusnya dikerjakan Manusia di Bumi ??

Tiap manusia berbeda diberi masa tenggang hidup di bumi (umur fisik semasa lahir hingga mati), jangan disia-siakan dalam berproses “mematangkan dan mensucikan jiwa”, inilah yang seharusnya dikerjakan Manusia secara maksimal semasa hidup di bumi.

Orang yang kurang sadar tidak akan bertanya pada diri sendiri pertanyaan ini secepatnya, dan orang-orang yang kesadarannya tumbuh akan menemukan ini sangat penting. Tahapan kesadaran yang Anda dapatkan adalah penting, semua orang melewati tahapan demi tahapan untuk berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Bagaimana Seharusnya Manusia berproses/hidup di bumi untuk mematangkan dan mensucikan jiwa ??

Tujuan hidup Manusia di bumi adalah dalam rangka menuju tujuan hidup yang hakiki yaitu agar dapat kembali ke Asal atau Tuhan YME. Untuk mematangkan/ mendewasakan jiwa, Manusia harus berupaya meningkatkan kecerdasan kesadaran ke level jiwa bijaksana.  Seiring itu membersihkan kotoran jiwa atau energi negatif, sehingga posisi Anda berada di jiwa suci, yang secara otomatis akan terhubung dengan Nur/lapis subyek cahaya Tuhan terluar yaitu nurani yang berada di hati kita.

Baca : Kesadaran Diri ,

Jika otak kita benar-benar adalah radio yang menerima transmisi mental dari dan menyampaikan informasi perseptual ke pikiran di luar ruang-waktu, ketika otak rusak kita dapat mengharapkan untuk mengamati kerusakan yang sesuai pada fungsi mental seperti merusak radio akan mengganggu kemampuannya untuk selaras dengan stasiun radio pemancar dan menyiarkan siaran radio dengan baik. Namun, membunuh otak tidak selalu membunuh pikiran, seperti halnya menghancurkan radio tidak menghilangkan siaran radio yang berasal dari stasiun radio.

Para ilmuwan ingin mengatakan bahwa otak menciptakan kesadaran dan kesadaran itu tidak dapat bertahan tanpa otak. Namun, di bawah ilmu kesadaran berbasis energi spiritual, itu sama masuk akal untuk menyatakan bahwa kesadaran ada sebelum pembentukan otak dan karenanya bisa ada setelah kematian otak.

Kesadaran ada sebelum tubuh fisik kita terbentuk, kesadaran ada sebelum organ otak tumbuh dengan sempurna, karena keadaran ada pada jiwa/soul, jiwa inilah yang bereinkarnasi berkali kali supaya bisa bertumbuh lebih baik dan pada akhirnya bisa kembali sempurna kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sempurna? Jiwa yang dapat kembali kepada Tuhan yang Mha Esa adalah jiwa yang bersih, suci dan murni dari pengaruh duniawi, atau bisa juga yang bersih dari energi negatif.

Bagaimana cara membersihkan diri dari energi negatif yang mengotori jiwa? Anda bisa mengikuti program saya ini : Program Penghapusan Energi Negatif Jarak Jauh

Jika kualitas jiwa sangat mempengaruhi proses Reinkarnasi, maka Bagaimana cara Manusia mendewasakan dan mensucikan jiwa ?

Persoalan yang termasuk hal paling pokok  adalah tahu dan tidak tahu cara/ilmunya/metodenya, kemudian persoalan utama yang kedua adalah untuk dapat berhasil efisien dan efektifitas  Apakah ... perlu waktu 2 bulan ?, 1 tahun ..? 10 tahun...? 100 tahun ...? hingga Keburu pindah alam atau mati !, hasilnya belum juga didapat ...? dan Manusia masih tetap buta tidak mengenal Tuhan, padahal Tuhan ada di mana-mana dalam penampakan berbagai wujud sesuai frekuensi dimensiNya. Persoalan dasarnya adalah Manusia harus bisa memahami jiwanya sendiri.

Untuk bisa paham mengenai persoalan reinkarnasi ini ada banyak orang yang terjebak kepada teori dan filsafat saja, tidak banyak ( atau memang banyak yang terjebak ) orang yang memang berniat untuk mencari cara dan metode atau ilmu untuk bisa berpraktek secara langsung untuk bisa mendewasakan jiwanya. ( ingatlah bahwa persoalan pokoknya adalah soal jiwa, soal bagaimana medewasakan dan mensucikan jiwa, jadi hal inilah yang harus diketahui dan didapat metodenya )

Pengetahuan Dasar: “Kenali Dirimu Sendiri”

Untuk bisa “Kenal Diri” secara utuh, diperlukan berbagai disiplin ilmu pendukung, setidaknya ilmu tentang RUH  (dzat yang menyebabkan jiwa hidup); ilmu tentang JIWA (psikologi) yang menyebabkan raga hidup; ilmu tentang RAGA: terdiri badan kasar/fisik dan badan halus/badan energi.
Dengan cara ini Manusia akan tahu tentang diri sejati (jiwa suci) dan jati diri (nurani atau titik pertemuan subyek cahaya Tuhan lapis luar dengan jiwa suci).


Dalam kehidupan kita di bumi sudah seharusnyalah kita memahami diri kita sendiri, jika kita bisa memahami diri kita sendiri, maka kita tidak akan terjebak lagi dengan bagian bagian dari diri kita tersebut. Ada kalanya kita terjebak dengan pikiran kita sendiri, asumsi negatif yang muncul karena proses bekerjanya pikiran membuat kita terjebak dengan realita yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.
Dalam kaitannya dengan reinkarnasi, Selain pikiran apalagi yang perlu dikenali ?


Banyak fragmen atau bagian dari hidup kita, yang kita kenal sebagai realita, muncul karena diri kita sendiri. Ini yang sebenarnya harus kita manfaatkan untuk meraih hidup yang lebih baik. Hidup yang bisa membuat kualitas jiwa kita menjadi lebih baik. Kehidupan di bumi dan hubungannya dengan reinkarnasi bisa kita sikapi dengan tepat. Agar di reinkarnasi berikutnya kita bisa memiliki kualitas jiwa yang lebih baik, atau bahkan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa. Inilah tujuan hakiki kita sebagai manusia. Kembali kepada pencipta kita.

Jika kita perhatikan dengan teliti kita dapat menemukan bukti ilmiah dari struktur yang memungkinkan reinkarnasi ada. Dan jika kita mempelajari struktur-struktur ini kita harus dapat menemukan dengan tepat bagaimana reinkarnasi bekerja dan oleh karena itu mengetahui apa yang akan terjadi pada kita setelah kita mati.


Reinkarnasi, atau metempsikosis, adalah transfer, atau migrasi, jiwa dari satu tubuh ke tubuh lain. Untuk mempertahankan jiwa pribadi, jiwa hanya dapat pergi ke tubuh tanpa jiwa, yaitu, kepada anak manusia yang belum lahir.

Jiwa ( suatu ketika saya akan mencoba mulai menulis lebih detail mengenai soal jiwa, sementara ini – anda bisa membaca artikel saya yang berikut ini agar bisa sedikit memiliki referensi apa yang disebut dengan jiwa serta bagian bagiannnya :  
   
Apakah yang dimaksud dengan jiwa manusia ?


, seorang manusia memiliki tubuh bio-plasma, yang menurut bukti mengandung struktur kesadaran - jiwa. Jiwa telah menyusun bio-plasma dengan merekam/menyimpan esensi pengalaman hidup seseorang. Karena bio-plasma adalah milik makhluk hidup, anak yang belum lahir juga akan memiliki bio-plasma, tetapi belum memiliki pengalaman konkret yang akan membentuk struktur jiwa dalam bio-plasma. Pada tahap tertentu, anak manusia yang belum lahir, singkatnya, belum memiliki jiwa. Oleh karena itu, ketika seseorang meninggal, jiwa mereka harus ditularkan ke anak yang belum lahir, yang kemudian menyusun bio-plasma anak dengan pola bio-plasma dari jiwa orang yang sekarat itu. Kematian dan transfer adalah bagian dari metode evolusi kesadaran.

Tapi apakah hanya begitu saja?
Apakah begitu mudahnya reinkarnasi bisa dijelaskan melalui kejadian berpindahnya jiwa dari orang yang meninggal ke orang lain yang akan lahir?

Tentu saja tidak, karena dalam banyak literatur budaya dan agama, tidak begitu simpel. Ada tempat menunggu jiwa jiwa yang baru terlepas dari tubuh fisiknya, ada tempat penempaan atau tempat belajar agar bisa layak lagi masuk ke tubuh fisik, dan berbagai macam lagi yang lainnya.

Banyak dari kita bertanya-tanya ini. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita mati, itu berakhir dan tidak ada yang lain. Tapi apa tujuan hidup selanjutnya? Kita sering tidak peduli dengan ini sama sekali, dan kesibukan ebraktifitas memenuhi hari hari kita. Namun pertanyaan ini sangat penting dan menarik. Itu semua berhubungan dengan pertumbuhan kesadaran kita.

 Tujuan dari jiwa kita mengalami kehidupan kembali di bumi saat ini adalah untuk menguasai semua alat alat atau tools yang ada pada jiwa itu sendiri, untuk menguasai semua tools tersebut perlu menggunakannya dalam kehidupan, jadi kita mempunyai pengalaman langsung dalam mempelajari serta mengaplikasikan semua tools tersebut.

Pengalaman tersebut bisa berupa pelajaran atau pengalaman tentang melepaskan, berterima kasih, menerima, cinta tanpa syarat, benar-benar semua pelajaran kehidupan yang dapat Anda bayangkan. Setelah semuanya dipelajari dan dialami, tidak ada alasan untuk kembali ke Bumi lagi.

Bisakah kita mengenali diri kita dengan seutuhnya? Jika kita sudah masuk ke jalan spiritual energi, kita akan tau kemana harus melangkah, kemana tujuan kita yang hakiki. Mengenali diri dimulai dari terhubung dengan bagian bagian diri, dimulai dari bagian fisik, bagian pikiran, bagian jiwa hingga selanjutnya ke bagian Ruhani/Percikan cahaya Tuhan Di dalam diri manusia. ( jika ketertarikan anda adalah Mengenal Diri sebagai bagian dari perjalanan mengenali Tuhan, maka anda bisa mengikuti program saya ini, ( silahkan klik link berikut ini : Program Pengembangan Diri Untuk Kesuksesan ) , program ini akan membuat anda mengenali diri dengan sarana energi diri anda sendiri, anda bisa masuk ke frekuensi yang tepat yang akna menghubungkan anda ke bagian bagian yang dimaksud, teori dan filsafat akan bisa anda nikmati setelah anda merasakan secara langsung pengalaman tersebut, dampaknya adalah hubungan yang nyata dengan sarana energi, untuk masuk ke frekuensi yang tepat, sehingga anda bisa terhubung dengan Diri sejati anda ataupun sesudahnya and ajuga bisa terhubung ke seluruh Alam Semesta. Inilah modal utama untuk menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat )

Program tersebut akan membuat anda bisa memahami Kehidupan di bumi dan hubungannya dengan reinkarnasi , dan meningkatkan kualitas jiwa anda, dengan visi utama : Kembali seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.





Share on Google Plus

About Erlangga Asvi

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar