Kesadaran spiritual vs logika : cerita tentang iblis 8



Menurut ilmu Energi Spiritual Nusantara, kesadaran spiritual adalah : sebuah sistem di dalam diri manusia yang dapat memahami segala sesuatu, bahkan merupakan wahana bagi manusia untuk dapat terhubung dengan Tuhan.

Sengaja saya ulangi kembali apa yang sudah saya tuliskan di artikel sebelumnya sebagai penyegaran untuk kita semua.

Kesadaran adalah sebuah sistem dalam diri kita, sistem ini terdiri dari input informasi ( bisa berasal dari : panca indera – data yang tersimpan pada jiwa – data yang diberikan oleh ruhani  ) , prosesor – pemrosesan data – otak manusia  dan energi sebagai penggerak utama.

Manusia jarang memperhatikan dan meningkatkan fungsi fasilitas '' SISTEM KESADARAN '' yang ada dalam diri.

Sumber kesadaran berasal dari hati, hati merupakan bagian dari Ruh, sebagai wahana terluar tempat bersemayamnya Ruhani/Nurani.

Ruh adalah inti hidup, setiap yang hidup mengandung energi, khusus pada manusia di dalam hatinya mengandung energi kesadaran yang bersifat universal.



Cara paling mudah untuk membedakan antara kesadaran spiritual dan logika adalah sumber input informasinya, logika, mengambil input informasi dari panca indera, dak kemudian mengolah informasinya di otak lalu kemudian di simpan untuk dijadikan bahan pertimbangan atau dasar pengambilan keputusan selanjutnya. Jika ada hal hal lain diluar itu, maka logika tidak akan mau menerimanya.

Sedangkan kecerdasan spiritual, mengambil informasi dari sumber lain, yaitu percikan cahaya Tuhan yang ada di dalam diri. 

3 lapis jiwa yang terluar, yang akan sangat berguna untuk kehidupan kita semasa di dunia, tapi akan sangat membahayakan manakala tidak diatur dengan baik, sebab 3 lapis jiwa ini kan membuat hidup kita berada dalam ilusi materi duniawi semata. 3 lapis jiwa ini ( yaitu jiwa ego, jiwa amarah dan jiwa keinginan ) akan mengendalikan kerja logika.

Saat ini, ada segolongan orang yang membawa kita semua kepada jebakan duniawi, yaitu memfokuskan diri pada Diri Palsu, tanpa kita sadari, kita terjebak dengan diri palsu. Ada banyak strateginya, ada banyak caranya,..semuanya mengarah kepada diri palsu, jika diri palsu aktif, maka logika akan semakin aktif.

Cerita fiksi berikut ini akan semakin membuat kita memahami, bagaiman kerja iblis dan apa kaitannya dengan  masyarakat modern, sebelumnya, saya sarankan anda membaca  artikel bersambung saya yang sebelumnya :


BUDAYA MODERN, MEMUDAHKAN KERJA SETAN.

Modernisasi dipelopori oleh negara negara barat, tersiar dan pengaruhnya mendunia, dengan memaksimalkan potensi manusia, yaitu fungsi otak : akal –fikir atau populer disebut pikiran (mind) atau pola pikir ( mind set ).  Kesadaran pikiran dibagi menjadi 3, yaitu (1) Pikiran Kesadaran Fisik ( saat ini ). (2) Pikiran Bawah Sadar  (3) Pikiran Supra Sadar

Prinsip modern tersebut cocok untuk alam dunia ini, tetapi tidak cocok untuk alam Spiritual/Ruh Tuhan. Persepsi yang berpedoman pada kesadaran Pikiran (mind) ini tanpa disadari justru lahan bagus bagi aktifitas setan untuk mempengaruhi manusia agar tersesat pada jalan hidup yang dianjurkan Tuhan. Program Peningkatan Kecerdasan Emosi (E.Q) pun tidak banyak membantu, karena yang diproses adalah jiwa lapis luar/kulit.

Aktifitas negara adidaya barat, mungkin mereka tidak menyadari bahwa visi-misi yang digagas itu telah disusupi dan dikendalikan oleh Kerajaan kegelapan/pasukan sekutu Setan. Muatan tersembunyi dari Setan adalah : menjaga statusnya sebagai Penguasa Dunia. Menerapkan jebakan sistem ekonomi dengan memberi hutang jangka panjang sehingga nantinya peminjam tidak mampu membayar, yang nantinya akn terpola dalam prinsip ketergantungan, dll.

Solusi bijak diusulkan disini : Melalui Ilmu Energi Spiritual Nusantara sedang berproses untuk mencetak manusia manusia baru, sebagai Sumber Daya Manusia yang panglima hidupnya Ruhani/Spiritual – Nurani mencerahi jiwa dan Pikiran, sehingga memanusiakan manusia yang sejati, sekaligus memutus mata rantai aktifitas Setan pada diri pribadi manusia tersebut.

Padahal, jika kita belajar dengan  benar agama yang kita yakini dan anut, pasti kita bisa masuk sampai lapisan terdalam, yaitu pada kesadaran spiritual, ini apabila kita berhasil terhubung dan memancaaftkan energi dari Percikan Cahaya Tuhan yang ada di dalam diri kita sendiri, sayangnya,.... kita baru belajar sampai pada kulit luarnya saja...

BELAJAR AGAMA APAPUN, HANYA SEBATAS KULIT, MEMUDAHKAN KERJA SETAN.

Setiap Agama apapun yang datangnya dari Tuhan,tentu mengajarkan : Kebenaran - Kebajikan - Kedamaian - Keselamatan - Kebahagiaan,dll, di Dunia dan Akhirat. Dan masing-masing mempunyai materi dan prosedur baku yang harus dipelajari dan dipraktekan. Bila dijalankan dengan benar,akan menghasilkan umat yang berbudi luhur/berakhlaq mulia, pembawa rahmat dan perdamaian umat manusia.

Namun setan tidak menghendaki hal tersebut terjadi,sehingga tiap manusia dalam berproses belajar Agama dihalang-halangi agar : Pemahamannya keliru; Merasa benar sendiri; Malas,dll. Dan upaya setan ternyata tidak sia-sia,hampir setiap Agama,faktanya secara intern terpecah menjadi beberapa aliran/paham, bahkan secara terselubung atau terbuka terjadi konflik antar Agama, jauh dari maksud Agama itu sendiri.

Kalau dicermati - mengapa setan sukses memperdaya manusia ?, ternyata setelah dikaji mendalam, kuncinya terletak pada level pemahaman dalam belajar Agama masih sebatas kulit atau permukaan, belum sampai pada level inti dari substansi materi pelajaran suatu Agama. Bila hal ini tidak disadari para tokoh Agama, dan segera mengadakan perbaikan pola - sistem - metoda, dll, maka pembiaran seperti ini produknya akan seperti itu/seperti saat ini. Sebaiknya jangan merasa benar dan bangga menjadi/menyebut : ITU KAN OKNUM ! begitu banyaknya Oknum-Oknum ?? Mengapa tidak instropeksi dan mengadakan Evaluasi !?.

Dihimbau dengan tulus, agar tidak kena pengaruh setan dan mendapat predikat Oknum, bagi seluruh umat beragama apapun, berproseslah sampai pada kedalaman intisari Agama. Syukur kompak mampu melawan dan mengalahkan setan. 

Bila umat manusia tidak segera sadar, dan mengadakan upaya perbaikan, kekompakan - Damai - kemudian bersama sama mengatasi kondisi ini, umat manusia kedepan akan semakin dalam kehancuran ?

Benarkah? Tentunya hal ini tak akan terjadi manakala kita bisa masuk sampai kedalamanan agama, atau kata salah seorang sahabt saya, kalau makan durian, jangan dengan kulitnya,..cukup isinya saja.
Di kedalaman agama ini akan kita temui kesadaran spiritual, atau juga kesadaran Tuhan. Inilah yang hakiki, inilah yang diinginkan oleh setiap agama.


Banyak orang sekarang dan kemudian beberapa ragu apakah agama mereka sendiri adalah yang terbaik atau apakah akan lebih baik untuk pindah agama. Yang lain berpaling dari semua agama dan beberapa bahkan menolak segala jenis spiritualitas. Bukankah kita perlu agama lagi? Apakah mereka konsep masa lalu?

Selalu ada persaingan tertentu di antara banyak agama karena pada akhirnya mereka semua peduli tentang "klien" yang sama. Semakin banyak pengikut untuk suatu agama secara otomatis 

meningkatkan pengaruh dan kekuasaannya dan dalam banyak kasus juga sumber daya keuangannya.
Perang yang tak terhitung jumlahnya terjadi atas nama agama, sebut saja perang salib orang Kristen atau serangan teror dari berbagai ekstremis agama. Pemikiran di balik ini adalah - dan kadang-kadang masih demikian, bahwa pengikut agama lain dianggap sebagai musuh, yang entah harus dikonversi menjadi agama yang "tepat" atau kalau tidak mereka harus "dibunuh".

Namun, jika Anda melihat agama yang berbeda dari jarak tertentu, semuanya memiliki kesamaan besar dalam esensinya:

Tujuan utamanya adalah pendidikan untuk menjadi manusia yang baik, yang hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan dan yang saling menghormati serta alam dengan semua makhluknya.

Inilah yang paling dikhawatirkan oleh Setan, jika manusia sampai kepada Tujuan hakikinya, mencegah manusia smpai kepada hal tersebut dengan menghalangi manusia sampai pada kesadaran Spiritual ,  mereka menarik manusia pada kesadaran diri palsu, kesadaran diri yang dipenuhi oleh jiwa ego, jiwa amarah dan jiwa keinginan. Segala tipu daya dan muslihat mereka gunakan.

Akhirnya, sebagian besar - jika tidak semua - agama pada intinya tentang pengembangan sifat-sifat kepribadian seperti cinta tanpa syarat, kebahagiaan, kerendahan hati, kejujuran diri dan kesopanan, masing-masing tentang menghormati "hak-hak dasar keberadaan". Ini adalah tentang perkembangan mereka sifat-sifat, yang akan memungkinkan jiwa kita untuk kembali ke asal ilahi mereka

Apa yang disebut kitab suci setiap agama akan membuat jalan menuju tujuan ini lebih sederhana dan lebih mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Mereka akan menjadi pemandu umat awam, buku pedoman atau pedoman bagi kehidupan sehari-hari. Jika kita membandingkan ini dengan situasi lalu lintas, maka tulisan suci bersesuaian dengan rambu-rambu, yang seharusnya mencegah semua orang membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. Rambu-rambu ini selanjutnya harus memastikan bahwa semua orang dengan aman tiba di tujuannya.

Karena ada berbagai cara untuk melakukan perjalanan ke kota tertentu, ada berbagai cara bagaimana jiwa dapat kembali ke keadaan asal ilahi yang disebutkan di atas. Tidak ada "jalan terbaik" yang objektif. Jika saya berada di selatan kota yang disebutkan di atas, saya mungkin akan memilih cara yang berbeda dibandingkan ketika saya kebetulan berada di utara kota yang sama. Jika saya memutuskan untuk berjalan maka saya mungkin akan memilih cara yang berbeda daripada jika saya telah memutuskan untuk naik kereta.

Dengan cara ini, kita dapat menyimpulkan bahwa agama adalah yang terbaik jika saat ini sesuai dengan kebutuhan kita sendiri.

Pernyataan di atas berlaku untuk esensi agama-agama. Namun menjadi kurang tegas jika kita berbicara tentang kitab suci masing-masing interpretasi umum mereka. Apa yang kita sebut buku pegangan atau tiang penuntun telah ditulis ulang dan baru ditafsirkan beberapa kali dalam perjalanan waktu. Ini diperlukan karena bahasa dan cara berpikir kita telah banyak berubah, karena tulisan suci kudus ditulis untuk pertama kalinya. Versi paling awal dari kitab suci ditulis dalam bahasa, yang sangat sedikit orang masih dapat memahaminya saat ini. Meskipun demikian selama proses penulisan ulang, beberapa kesalahan dimasukkan dalam skrip.

Tentu saja, penentuan nasib sendiri secara otomatis mengarah pada tanggung jawab diri sendiri. Tapi ini hanyalah langkah penting dalam cara hidup kita. Ini adalah tentang melakukan apa yang terasa benar menurut hati kita, menurut suara hati kita. Ini berbeda dengan melakukan sesuatu hanya karena orang lain menyuruh kita melakukannya atau karena orang lain juga melakukannya.

Agama bisa menjadi alat yang baik dan penting dalam cara hidup kita - tetapi hanya jika kitab suci mereka ditafsirkan sesuai dengan esensi agama masing-masing. Kalau tidak, mereka dapat dengan mudah menimbulkan kebalikan dari apa yang sebenarnya mereka pura-pura. Namun, kita semua memiliki kemampuan untuk memeriksa nasihat spiritual melalui intuisi atau suara hati kita.

Kita hanya perlu belajar lagi bagaimana menggunakan dan mempercayai suara hati atau intuisi kita. Mari, masuklah ke kedalaman diri sendiri, kita uraikan perlahan lahan asumsi pikiran serta logika,  kita damaikan dan manfaatkan jiwa ego, jiwa amarah serta jiwa keinginan ( Diri Palsu ) , mari kita masuk dalam kesadaran dan aplikasikan kesadaran spiritual.

Share on Google Plus

About Erlangga Asvi

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar