Kesadaran jiwa tenang - awal perlawanan terhadap setan – cerita tentang iblis 10


Kesadaran jiwa tenang, adalah awal mula kita memasuki zona kehadiran Tuhan yang disadari dengan benar. Menjadi tenang artinya tetap diam, baik secara fisik maupun mental. Dalam keheningan fisik dan mental, dikatakan bahwa energi tubuh dan pikiran mengendap, sama seperti kotoran mengendap di dalam air, dengan turun ke dasar, dan yang Anda miliki hanyalah air dengan kotoran di bagian paling bawah. Jadi, airnya jernih, dan juga ada rasa istirahat di tubuh fisik dan pikiran juga terasa segar dan "jernih".

Namun diam ini juga bukan berarti kita tak melakukan action apapun, karena sedianya kita tetap melangkan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.

Praktek latihan kesadaran yang dimulai dari sikap rileks adalah titik awal untuk tidak hanya melepaskan cengkeraman “berbasis rasa takut” yang Anda miliki di pikiran Anda, tetapi juga untuk memungkinkan pikiran melepaskan semua momentum negatifnya yang terpendam dan mencapai keseimbangan . Selain itu, ini menyebabkan pelepasan "perlawanan" dalam diri Anda yang memastikan bahwa Anda menjadi selaras dengan tarikan arus hidup Anda.

Awal dari rileksasi energi adalah sikap rileks. Sebuah sikap yang akan mengantarkan kepada jiwa tenang.

Jika Anda sudah mencoba melatih rileksasi energi, atau bahkan mengikuti program program saya, sebagai sebuah praktik latihan kesadaran yang dimulai dari sikap rileks, suatu ketika saya, Anda, kita akan masuk ke dalam keadaan seimbang dalam zona kesdaran jiwa, pikiran tiba-tiba menjadi seimbang , kita akan diselaraskan dengan aliran energi kehidupan.

there is nothing further we need to understand – the only reason for giving all the various understandings is to allow the mind/being to become comfortable with this state of “allowing” or “letting go”, to understand it “logically” and scientifically as to how it allows positivity to come through and how it dissolve the negative momentum.

Jika kita ingin membentengi diri terhadap serangan dari setan, maka kita harus memulai mengembangkan senkjata alamiah yang kita miliki, yaitu masuk ke dalam jiwa tenang. Dalam kondisi kesdaran tenang inilah informasi yangs ejati yang berasal dari tuhan akan hadir memandu kita.

Silahkan membaca artikel sebelumnya , cerita tentang iblis bagian 9. :
Kecerdasan spiritual akan menghambat kerja SETAN – cerita tentang iblis 9


MANUSIA YANG TAWAKAL, MENYULITKAN KERJA SETAN.

Manusia Tawakal yang dimaksud adalah manusia yang mempunyai persepsi diri bahwa segala sesuatu yang terjadi '' Ditentukan '' oleh yang diyakini yaitu : Tuhan,  oleh karena itu pola hidup dalam menjalani kehidupan : Segala beban dan urusan Dunia - Akhirat secara bathiniah-kejiwaan di Pasrahkan kepada Tuhan. Kondisi ini menyebabkan aksi-reaksi mengalirnya energi Tuhan kepada manusia tersebut, hal ini menjawab mengapa manusia yang Tawakal akan menyulitkan kerja setan.

Seribu - satu manusia dimuka Bumi ini yang persepsinya dalam posisi Tawakal total. Diri palsunya menentang keras, karena prinsip hidupnya mengandalkan logika, masuk akal atau tidak, belum lagi doktrin dan pengaruh lingkungan yang terkondisi bahwa materi adalah tolok ukur atas segala sesuatu,serta pendapat orang banyak yang menjadi refrensi-walau tahu bahwa itu adalah '' salah kaprah ''.


Bila suatu saat dalam kehidupan anda mengalami problema atau kegalauan atau situasi yang tidak menentu dalam kondisi kritis menurut persepsi relatif anda, maka langkah penyelamatan awal - segera lakukan tawakal kepada Tuhan ( untuk menghindari pengaruh setan ), dan diam sejenak untuk tentramkan bathin, kemudian rasakan energi dari Tuhan mengalir ke dalam diri - sering kali informasi berupa instink atau ide solusi muncul, maka segera tangkap untuk selanjutnya gunakan pikiran  cerdas anda untuk melangkah - berbuat mengatasinya.

Bagaimana mau memulai tawakal bila kesadaran jiwa tenang tak bisa didapat? Bagaimana mau merasakan kesadaran tenang bila belum masuk ke posisi jiwa tenang? Taukah anda dimana jiwa tenang berada?

Jiwa tenang terletak sesudah diri palsu ( Diri Palsu adalah lapisan jiwa yang paling depan, yang paling dekat dengan logika  ) Diri Palsu = dimulai dari lapisan jiwa paling depan yang berdekatan dengan logika = jiwa keinginan, jiwa amarah dan jiwa ego. Baru kemudian ( Diri Sejati )  jiwa tenang, jiwa bijak, jiwa murni, jiwa suci.

Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar, merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam rohani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali.”–Ibn Sina

Kita sepakat bahwa manusia terdiri dari dua unsur, jasmani dan rohani. Jika manusia butuh makan dan vitamin untuk kesehatan badannya, maka manusia pun butuh asupan penting guna menyehatkan unsur rohani mereka.

Namun,  saking asyiknya dengan unsur yang tampak oleh mata, kadang kita lupa dengan siapa dan apa tujuan kita hidup di dunia. Sehingga, urusan jiwa pun terbengkalai.

Hal inilah yang kemudian membuat hati manusia menjadi gersang. Mudah marah, mudah menyalahkan, mudah membenci, sombong dan sederet sikap dan sifat negatif lainnya—yang sesungguhnya bukan merupakan sikap dasar alamiah manusia.

Sifat sifat inilah DIRI PALSU, Diri Palsu inilah ruang masuknya SETAN ke dalam diri kita sebagai manusia.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas, dengan segala nikmat yang diberikan, lagi diridhaiNya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam syurgaKu”–(Qs. Fajr: 27-30)

Baca artikel : Kesadaran jiwa tak aktif maka tak tau tujuan

Ya, itulah seruan indah dan lembut dari Allah agar kita dapat kembali dalam kondisi sebaik-baiknya kondisi. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita layak menerimanya di penghujung usia kelak? Bila saat ini tak berusaha untuk mulai masuk ke dalam kondisi jiwa tenang maka bisakah nanti ketika fisik kita sudah expired date kita menuju ke jiwa yang tenang, tau bahkan lebih jauh lagi sampai kepada cahaya Tuhan di dalam diri? Saat ini ketika hidup adalah saat yang paling tepat. Jika saat ini kesadaran jiwa tenang sudah mulai bisa kita alami, maka ....pertolongan langsung dari Tuhan akan hadir.

MANUSIA BIJAKSANA, DAPAT MENGHALAU SETAN.

Manusia bijaksana adalah manusia yang tingkat kesadarannya telah melampaui kesadaran Diri palsu dan jiwa tenang, oleh karenanya tahu tentang kebenaran dan ketidak benaran, energi Tuhan dekat dengan manusia bijaksana dan dengan sadar mampu menyalurkan energi sesuai yang diinginkan, terutama mencerahi jiwa dalam diri palsu dan pikirannya. Hal inilah yang menyebabkan manusia bijaksana tidak saja menyulitkan kerja setan, tetapi lebih dari itu mampu menghalau setan.

Diperlukan perjuangan keras bagi manusia awam untuk bisa kesadarannya pada level jiwa Bijaksana, mengingat wahananya adalah Hati,bukan otak atau pikiran, sehingga jarang sekali manusia yang tergerak secara konsisten menjadi manusia yang Bijak. Manusia bijak tidak secara otomatis bebas dari godaan setan, tetapi justru level setan yang menggoda tingkatannya jauh lebih tinggi dalam jumlah yang banyak, tipu daya semakin cerdik dan halus, kalau tidak waspada dalam mengantisipasi bisa tergelincir juga.

Kebijaksanaan selalu berpihak kepada kebenaran, demi kemaslahatan dan manfaat secara universal, sumber inspirasi adalah Nurani - bukan kecerdasan pikiran dan kecerdasan emosi. Kebijaksanaan yang berdasarkan kecerdasan pikiran dan emosi melahirkan ke semu-an, mudah sekali dicemari bisikan setan. Sehingga hasil akhirnya masih bermuatan kepentingan/Ego, dan bila dipaksakan dalam pelaksanaan praktek kehidupan - azas kemaslahatan dan manfaat tidak akan maksimal. 

MANUSIA BERIMAN, DAPAT MENGHALAU SETAN.

Iman artinya percaya,dan yang dimaksud adalah percaya kepada Tuhan YME. Manusia beriman mempunyai tingkatan kualitas yang berbeda - beda, secara garis besar dibagi dua : 1. Percaya karena menyaksikan; 2. Percaya karena diberitahu.  Percaya bila sudah mengkristal menjadi '' yakin '', dan yakin bila sudah total akan menjadi energi sesuai dengan keyakinannya.

Jadi manusia beriman adalah manusia yang sudah mengandung muatan energi keyakinan, bila yang diyakini adalah Tuhan - maka manusia beriman adalah manusia yang mempunyai Energi Tuhan. Inilah mengapa manusia beriman sulit digoda setan, bahkan dapat menghalau setan.

Banyak kejadian di masyarakat,semua pemeluk Agama apapun menyatakan bahwa dirinya beriman, tetapi faktanya sebagian besar terpengaruh oleh godaan setan - bahkan dengan tenangnya membohongi dirinya sendiri seolah tampak dihadapan orang lain tercitra menjadi manusia yang beriman. . . Yang tidak bisa tergoda oleh setan.

Satu - satunya perlindungan manusia masa kini dan kedepan untuk menghadapi serangan tipu daya setan adalah bersandarkan Agama yang diturunkan Tuhan YME. Kristalisasi ajaran kebenaran Agama ini menghasilkan manusia beriman yang sejati dan mampu menghalau setan


Dan jangan lupakan jika awal dari segalanya adalah saat kita mengenal Tuhan, kenal dengan Tuhan mengakibatkan kita bisa relatif sangat mudah masuk ke dalam kesadaran jiwa tenang, atau bahkan lebih jauh lagi, masuk ke level bijaksana,..dan sekalian masuk ke dalam kesadaran Tuhan di dalam diri kita.

Jiwa yang tenang—nafsul muthmainnah, hanya ada pada orang yang memilih jalanNya. Sehingga  akhirnya mendapatkan kasihNya dan mampu menebarkan pula rahmatNya terhadap seluruh makhluk, tak terkecuali binatang dan alam semesta.


Jiwa yang tenang, yang hadir dengan begitu santunnya menyapa Dia, Dzat yang maha memberi ketenangan—yang merupakan sumber Kebahagiaan sehingga kita bisa menebarkan rasa bahagia yang kekal lagi menggembirakan.

Jiwa yang tenang, yang selalu dinanti dan diharapkan manusia. Jiwa yang dengan keagunganNya, kita dituntun agar dapat menempuh jalan yang sempurna dalam penghambaan seorang manusia.

Sayangnya, keberadaan jiwa yang tenang ini terkadang tertutupi oleh DIRI PALSU ( jiwa ego, jiwa amarah dan jiwa keinginan )  manusia. Ia ada, tapi seolah-olah tiada. Ia nyata, tapi kehadirannya seakan tak dapat terlacak. Ia hadir, bahkan ketika diseru oleh Tuhan, namun seperti hilang ditelan sikap angkuh manusia, hingga ia pun seperti burung dalam sangkar, terus ‘menjerit’ dan mengharap kembali kepada Tuhannya dalam kondisi yang tenang lagi santun, muthmainnah.

Pun, seperti burung dalam sangkar. Sebaik dan semewah apa pun perhiasan dunia—terpenjara dalam sangkar yang mewah lagi mahal. Namun, jiwa yang tenang lagi santun hanya berharap dan ingin kembali pada Dia yang maha memberikan ketenangan.

Ya, Tuhan begitu dekat. Semakin kita menghampiriNya, semakin pantas Dia menghampiri kita dan Dia meyakinkan kita dengan kata-kata cintaNya yang abadi, “Aku berada lebih dekat dari urat lehermu sendiri.”

Seolah-olah Tuhan berbisik ke telinga kita, “Wahai yang kusayang, usah gelisah. Aku ada bersamamu, selalu.”

Ucapan yang sangat membahagiakan untuk setiap insan yang merindu dan sakaw karena cinta. Merindu untuk dapat bertemu dengan yang terkasih, Tuhan semesta alam.


Share on Google Plus

About Erlangga Asvi

    Blogger Comment
    Facebook Comment