BannerFans.com

Ayo Alami Hidup Pada Kesadaran jiwa Ayo Pulang Ke Diri Sejati

Sebagai seorang coach, terapis, dan fasilitator energi kesadaran jiwa dan spiritual, aku sering bertemu orang yang lelah karena hidupnya hanya mengejar sesuatu di luar dirinya. Mereka ingin jadi nomor satu di industri, nomor satu di pekerjaan, nomor satu di mata orang lain.

Aku pun dulu pernah begitu. Aku pikir kalau aku jadi nomor satu, aku akan bahagia. Tapi nyatanya, saat aku benar-benar meraih puncak, jiwaku justru kosong. Aku semakin gelisah, takut disalip, mudah panas jika ada yang lebih unggul.

Kesadaran jiwa hadir dan dari pengalaman itu aku sadar: menjadi nomor satu di luar tidak berarti aku sudah menjadi nomor satu di dalam ruang hatiku sendiri.


Kesadaran Jiwa: Peta 7 Lapisan Diri

Dalam perjalananku mendampingi banyak orang, aku menemukan bahwa jiwa punya tujuh lapisan ekspresi. Inilah peta kesadaran yang membantuku memahami rasa-rasa yang muncul setiap kali aku mengalami hidup:


(A) Diri Sejati – inti kesadaran yang abadi, cahaya yang tak pernah padam.

(1) Jiwa Suci – kesadaran murni yang bersih dari noda.
(2) Jiwa Murni – sederhana, alami, polos tanpa topeng.
(3) Jiwa Bijak – penyambung suara resi, guru batin, penuh welas asih.

Baca juga artikel :

Apa itu kesadaran jiwa - Diri Sejati?

(B) Jiwa Tenang – pusat kedamaian yang teduh dan stabil.


(C) Ego (Diri Palsu) – wajah luar yang haus validasi, ingin dipuji.

Amarah & Keinginan (Diri Palsu) – dorongan panas yang gelisah dan tak pernah puas.

Semua lapisan ini adalah ekspresi jiwa. Mengalami hidup berarti mengalami semua rasa dari lapisan ini. Namun, di titik tertentu, kita diberi anugerah untuk sadar, lalu memilih: mau tinggal di lapisan yang mana?

Diri Sejati vs Diri Palsu

Ego, amarah, dan keinginan sering kali mendominasi. Mereka membuat kita lelah mengejar validasi semu. Tapi ketika aku berani masuk lebih dalam, aku menemukan ruang hati yang damai. Di sanalah aku bisa berdiam di kesadaran jiwa tenang, atau bahkan pulang ke diri sejati.


Saat aku memilih kesadaran jiwa, hidup terasa berbeda:

(1) Aku tidak lagi terjebak dalam angka-angka semu.

(2) Aku tidak lagi panas hati kalau tersalip.

(3) Aku tidak lagi sibuk mengejar pujian.

Sebaliknya, aku berjalan lebih jernih, lebih merdeka, dan lebih tenang.

Baca juga artikel :

Menuju Pencerahan KesadaranJiwa

Jatidiri: Guru Bijak di Dalam

Dalam ruang hati, aku tidak sendirian. Ada jatidiri: representasi Sang Maha Pemberi Kehidupan yang hadir sebagai guru batin. Dialah yang selalu mengingatkan:


(1) “Rezekimu tidak ditentukan kompetitor.”

(2) “Bahagiamu tidak datang dari ranking, tapi dari kesadaran.”
(3) “Kemenanganmu bukan di luar, tapi di arah yang benar di dalam.”

Aku menyebut jatidiri ini sebagai resi, sahabat abadi yang membimbingku pulang.


Baca juga artikel :

Mengenal Jati Diri Manusia

Tendangan dari Langit

Ketika aku menuliskan ini, aku sedang mendengarkan lagunya Kotak – Tendangan dari Langit.
Dan aku tersenyum, karena bagiku lagu itu seakan jadi representasi energi dari langit yang masuk dan kuterima di ruang hati.

Seperti sebuah “tendangan energi” yang membangunkan kesadaran jiwa: keras tapi penuh kasih, menghantam lapisan ego, amarah, dan keinginan, lalu membawaku pulang ke kesadaran diri sejati.

Musik itu seperti pengingat: bahwa cahaya selalu turun, tapi apakah aku siap menerimanya di hati?


Hidup sebagai Jiwa = Hidup Merdeka

Setelah melalui banyak jatuh bangun, aku menyadari: kemerdekaan sejati bukan soal bebas melakukan apa saja, tapi bebas memilih lapisan jiwa mana yang ingin aku tempati.


(1) Aku bisa memilih untuk terjebak di ego, amarah, dan keinginan.
(2) Atau aku bisa memilih tinggal di jiwa tenang.
(3) Atau aku bisa pulang lebih dalam ke diri sejati, suci, murni, dan bijak.

Dan setiap kali aku memilih pulang ke kesadaran jiwa, aku menemukan satu hal: aku merdeka. Aku utuh. Aku nomor satu, tapi hanya di ruang hatiku sendiri.


Baca juga artikel : Merdeka is Freedom

Ayo Pulang ke Diri Sejati

Aku ingin mengajakmu sekarang. Tarik napas perlahan, pejamkan mata sebentar. Bayangkan engkau duduk di kursi tahtamu sendiri di ruang hati. Lepaskan beban luar, lepaskan ambisi, lepaskan rasa takut.


Tanyakan dalam diam:

“Lapisan jiwa manakah yang ingin aku pilih untuk mengalami hidup hari ini?”

Itulah awal dari pulang.
Itulah awal dari hidup dengan kesadaran jiwa.
Dan itulah kemerdekaan sejati. Artikel ini muncul terinspirasi dari live tiktok Pulang ke Diri Sejati di akun Svara Jiva by Erlangga Asvi, tonton full videonya disini :


✨ Mari pulang. Mari alami hidup sebagai jiwa. Mari memilih untuk berada pada kesadaran jiwa . Mari menjadi nomor satu di ruang hati sendiri.


Artikel ini muncul terinspirasi dari live tiktok Pulang ke Diri Sejati di akun Svara Jiva by Erlangga Asvi, tonton full videonya disini :



Share on Google Plus

About Erlangga Asvi

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar