Sebagai seorang coach, terapis, dan fasilitator energi kesadaran jiwa dan spiritual, aku sering bertemu orang yang lelah karena hidupnya hanya mengejar sesuatu di luar dirinya. Mereka ingin jadi nomor satu di industri, nomor satu di pekerjaan, nomor satu di mata orang lain.
Kesadaran jiwa hadir dan dari pengalaman itu aku sadar: menjadi nomor satu di luar tidak berarti aku sudah menjadi nomor satu di dalam ruang hatiku sendiri.
Kesadaran Jiwa: Peta 7 Lapisan Diri
Dalam perjalananku mendampingi banyak orang, aku menemukan bahwa jiwa punya tujuh lapisan ekspresi. Inilah peta kesadaran yang membantuku memahami rasa-rasa yang muncul setiap kali aku mengalami hidup:
(A) Diri Sejati – inti kesadaran yang abadi, cahaya yang tak pernah padam.
Baca juga artikel :
Apa itu kesadaran jiwa - Diri Sejati?
(B) Jiwa Tenang – pusat kedamaian yang teduh dan stabil.
(C) Ego (Diri Palsu) – wajah luar yang haus validasi, ingin dipuji.
Semua lapisan ini adalah ekspresi jiwa. Mengalami hidup berarti mengalami semua rasa dari lapisan ini. Namun, di titik tertentu, kita diberi anugerah untuk sadar, lalu memilih: mau tinggal di lapisan yang mana?
Diri Sejati vs Diri Palsu
Ego, amarah, dan keinginan sering kali mendominasi. Mereka membuat kita lelah mengejar validasi semu. Tapi ketika aku berani masuk lebih dalam, aku menemukan ruang hati yang damai. Di sanalah aku bisa berdiam di kesadaran jiwa tenang, atau bahkan pulang ke diri sejati.
Saat aku memilih kesadaran jiwa, hidup terasa berbeda:
(2) Aku tidak lagi panas hati kalau tersalip.
Baca juga artikel :
Menuju Pencerahan KesadaranJiwa
Jatidiri: Guru Bijak di Dalam
Dalam ruang hati, aku tidak sendirian. Ada jatidiri: representasi Sang Maha Pemberi Kehidupan yang hadir sebagai guru batin. Dialah yang selalu mengingatkan:
(1) “Rezekimu tidak ditentukan kompetitor.”
Aku menyebut jatidiri ini sebagai resi, sahabat abadi yang membimbingku pulang.
Baca juga artikel :
Tendangan dari Langit
Seperti sebuah “tendangan energi” yang membangunkan kesadaran jiwa: keras tapi penuh kasih, menghantam lapisan ego, amarah, dan keinginan, lalu membawaku pulang ke kesadaran diri sejati.
Hidup sebagai Jiwa = Hidup Merdeka
Setelah melalui banyak jatuh bangun, aku menyadari: kemerdekaan sejati bukan soal bebas melakukan apa saja, tapi bebas memilih lapisan jiwa mana yang ingin aku tempati.
Dan setiap kali aku memilih pulang ke kesadaran jiwa, aku menemukan satu hal: aku merdeka. Aku utuh. Aku nomor satu, tapi hanya di ruang hatiku sendiri.
Baca juga artikel : Merdeka is Freedom
Ayo Pulang ke Diri Sejati
Aku ingin mengajakmu sekarang. Tarik napas perlahan, pejamkan mata sebentar. Bayangkan engkau duduk di kursi tahtamu sendiri di ruang hati. Lepaskan beban luar, lepaskan ambisi, lepaskan rasa takut.
Tanyakan dalam diam:
“Lapisan jiwa manakah yang ingin aku pilih untuk mengalami hidup hari ini?”
0 comments:
Posting Komentar